Jerit Pengusaha Tahu Saat Pandemi Covid-19 di Desa Ingin Jaya

  • Bagikan

Foto : Risjki Apridawati. (Dok.Pribadi)

KABARANDALAN.COM – Desa Ingin jaya merupakan desa yang terletak di kecamatan rantau kabupaten Aceh Tamiang. Desa yang memiliki penduduk sebanyak 2.331 Jiwa. Serta desa yang dipimpin oleh kepala desa yaitu bapak Dedi Juanda. SH. Perekonomian merupakan salah satu unsur penting yang menentukan kesejahteraan setiap individu. Jika perekonomian atau ekonomi masyarakat semangkin berkembang, maka semangkin besar pula peluang bagi masyarakat untuk memperoleh penghasilan melalui peran sertanya setiap individu dalam aktivitas ekonomi.

Pada masa pandemi Covid-19 yang mana Covid-19 sendiri merupakan virus yang penyebarannya begitu cepat dan dapat menyerang terhadap siapa saja tampa memandang usia. Dan banyaknya protokol kesehatan yang harus ditaati atau dilakukan pada masa pandemi Covid-19. Pandemi Covid-19 membuat banyak kekhawatiran khususnya pada bidang perekonomian. Banyak masyarakat yang mengeluh akibat berkurangnya serta turunya omzet-omzet dalam bidang perekonomian. Terutama pada tempat pengolahan industri Tahu atau pabrik tahu yang terletak di Desa Ingin Jaya Dusun Muda Usaha Kecamatan Rantau Kabupaten Aceh Tamiang yang sedang merasakan dampak dari adanya pandemi Covid-19. Drastisnya penurunan pengolahan tahu selama pandemi mengalami penurunan yang benar-benar sangat membuat resah dan membuat pemilik pabrik harus berputar otak atau dalam kata lain harus mencari solusi yang tepat agar tidak akan terjadi peristiwa “Gulung Tikar”.

Baca Juga:  Kisruh Darussalam Mencoreng Perdamaian Aceh

“Sebelum masa pandemi Covid-19 usaha pembuatan tahu yang dijalani oleh ibu Dami tidak mengalami yang namanya menurunnya omzet. Serta harga bahan utama yang digunakan yaitu kacang kedelai sebesar RP. 365.000/ 1 goni 50 k, dan kedelai yang digunakan mencapai 3 goni, serta isi tahu perbungkusnya berisi 25 buah yang dijual dengan harga Rp.5000.

Tetapi Kenyataan yang dihadapi sekarang yaitu pada masa pandemi Covid-19 usaha pembuatan tahu sangat-sangat mengalami penurunan drastis. Yang biasanya bahan utama pembuatan tahu yaitu kacang kedelai yang digunakan mencapai 150 kg sedangkan sekarang selama pandemi Covid-19 menjadi 120 kg itu pun tidak habis, bahkan banyak memberikan sisa. Bukan hanya banyaknya kacang kedelai yang digunakan harga bahan utama kacang kedelai mengalami peningkatan harga yang awalnya sebelum masa pandemi Rp. 365.000 (1 goni 50 kg), pada masa pandemi sekarang menjadi Rp.495.000 (1 goni 50 kg). Dengan harga bahan dasar yang semangkin mahal maka pemilik pabrik melakukan pengurangan harga penjualan tahu yang biasanya Rp. 5000 mendapatkan 25 buah tahu perbungkusnya sekarang dikurangi menjadi 23 buah tahu perbungkusnya. Serta pemilik indutri tahu mengurangi omzet-omzet pembuatan dikarenakan banyaknya kendala-kendala yang terjadi saat pembuatan tahu terutama pada bahan baku yag semangkin mahal dan berkurangnya para pembeli dan peminat tahu.

Baca Juga:  Acheh Future Apresiasi Langkah Martin Nasai Evaluasi IPAU

Banyak faktor yang menyebabkan terjadinya penurunan omzet penjualan tahu diantaranya karena adanya Covid-19 yang membuat perekonomian warga pada menurun serta adanya himbauan untuk melakukan pembelajaran daring yang sudah ditentukan sesuai dengan himbauan Menteri Pendikan dan Kebudayaan Indonesia melalui Surat Edaran Nomor 4 tahun 2020 tentang pelaksanaan kebijaksanaan Pendidikan dalam masa Darurat Penyebaran Corona Virus Disease (COVID-19).

Mengapa perekonomian berkaitan dengan pembelajaran daring ? Karena para pembeli tahu adalah para pedagang-pedagang yang berjualan disekolah. Dan para pedagang keliling yang menjual olahan makanan yang berbahan dasar tahu. Para pedagang yang berjualan menggunakan bahan dasar tahu seperti pedagang tahu bakar, tahu krispi, tahu goreng dan sebagainya. Jika pemerintah memberikan himbauan agar melakukan pembelajaran daring maka para pedagang-pedagang yang biasa berjualan disekolah tidak dapat berjualan seperti biasanya, dan hal tersebut lah yang membuat omzet pengolahan tahu mengalami penurunan dalam memproduksi tahu.

Bukan hanya itu saat tahu dipasarkan ke pedagang-pedagang pasar banyak para pedagang yang mengeluh dikarenakan kurangnya para pembeli yang datang ke pasar untuk membeli tahu. Banyak para pembeli yang tidak datang ke pasar dikarenakan keuangan selama Covid-19 yang semangkin menipis kemudian harus mengikuti protokol kesehatan yang telah ditetapkan pemerintah. Dan semua masyarakat pun mengikuti aturan protokol kesehatan yang telah ditetapkan oleh pemerintah, bukan hanya itu jika masyarakat tidak mematuhi protokol kesehatan maka masyarakat akan dikenakan denda sesuai aturan yang ditetapkan oleh pemerintah. Hal tersebutlah yang membuat masyarakat enggan datang ke pasar. Semua masalah yang terjadi pada penjualan selama Covid-19 sangat berbanding terbalik dengan keadaan yang terjadi sebelum adanya masa pandemi Covid-19.

Baca Juga:  Diduga Cermari Lingkungan dan Serobot Lahan Warga, AP2L Minta Bupati Nagan Raya Evaluasi Izin PT KIM

Dari masalah tersebut para pemilik industri tahu khususnya ibu “Dami” berharap agar pandemi Covid-19 segera berakhir. Dan pemerintah segera mengambil langkah yang cepat untuk menyelesaikan permasalahan ekonomi terkait pemulihan ekonomi para pemilik industri-industri lainnya. Seiring dengan berlakunya kebijakan pemerintah yang telah memberlakukan New Normal pada saat ini para masyarakat juga mengahapkan jika perekonomian yang sedang masyarakat rasakan pada saat Covid-19 juga kembali normal seperti sebelum terjadinya Covid-19.

*Penulis : Risjki Apridawati, Mahasiswa Program Studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah (PGMI) IAIN LANGSA.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *