Kasus Pemukulan Ustadz di Nagan Raya Aceh Berakhir Damai dan Saling Bermaaf-maafan

  • Bagikan
Dok. Humas Pengadilan Negeri Suka Makmue

KABARANDALAN.COM, Suka Makmue – Sesuai arah kebijakan Mahkamah Agung Republik Indonesia untuk mengedepankan Keadilan Restorasi dalam mengadili perkara pidana sebagaimana tertuang pada Keputusam Dirjen Badilum Nomor 1691/DJU/SK/PS.00/12/2020 tanggal 22 Desember 2020.

Alih-alih tetap membiarkan Terdakwa di Rumah Tahanan Meulaboh, Majelis Hakim Pengadilan Negeri Suka Makmue Rangga Lukita Desnata, S.H., M.H., Bambang Hadiyanto, S.H., dan Zalyoes Yoga Permadya, S.H., dengan dibantu Jaksa Penuntut Umum Haland Perdana Putra, S.H., M.H., mengupayakan perdamaian antara korban dengan terdakwa yang melibatkan keluarga serta tokoh masyarakat setempat.

Dalam perdamaian tersebut, korban bersedia memaafkan terdakwa dengan mengajukan beberapa syarat. Berikut rangkaian perjanjian atau syarat yang dimaksud.

Baca Juga:  BPI KPNPA RI : Hukum Mati Pelaku Korupsi di Tengah Pandemi

Pertama, terdakwa membuat pengakuan bersalah secara tertulis yang isinya terdakwa mengakui kesalahannya karena telah menuduh saksi korban sebagai penyebab jatuh sakitnya adik terdakwa sebelum meninggal dunia

Kedua, terdakwa mengakui kesalahannya yang telah memukul kepala saksi korban dan meminta maaf kepada saksi korban secara tertulis

Ketiga, pengakuan bersalah dan permintaan maaf terdakwa tersebut dalam bentuk tulisan tersebut dipajang atau ditempel pada papan pengumuman di dayah safinatun naja dan dibacakan di masjid baitul taqwa gampong puloie kecamatan kuala kabupaten nagan raya,

Baca Juga:  KPK Nilai Capaian MCP untuk Pencegahan Korupsi di Aceh Terus Meningkat

“Syarat-syarat itu ditunaikan dengan baik oleh terdakwa sehingga terjadilah perdamaian antara korban dan terdakwa pada tanggal 17 September 2021,” tegas Rangga Lukita Desnata, S.H., M.H selaku Hubungan Masyarakat Pengadilan Negeri Suka Makmue di Suka Makmue. Kamis, 07 Oktober 2021 melalui rilis yang diterima kabarandalan.com

“Berdasarkan perdamaian tersebut majelis kakim mengeluarkan terdakwa dari rumah tahanan dan mengembalikannya kepada keluarga di rumah,” ucap rangga

Prosesi perdamaian antara korban dengan terdakwa tersebut berlangsung di Ruang Sidang Utama Pengadilan Negeri Suka Makmue

Baca Juga:  Rocky Gerung 'Diusir' Dari Rumahnya Sendiri

Perdamaian yang disertai ‘Pesijuek’ itu turut dihadiri oleh keluarga korban dan keluarga terdakwa, tokoh masyarakat setempat, serta disaksikan oleh Ngatemin, S.H., M.H Ketua Pengadilan Negeri Suka Makmue Kabupaten Nagan Raya

Pesijeuk merupakan tradisi adat masyarakat Aceh yang diadakan untuk menyambut perdamaian antara korban dengan terdakwa.

Melalui Pesijuek tersebut, dendam antara kedua belah pihak menjadi hapus dan jalinan persaudaraan yang sudah terputus kembali tersambung, kerugian korban terpulihan dan kerusakan yang sudah terjadi di masyarakat dapat diperbaiki kembali. (*)

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *