Kisah Guru Garis Depan Asal Aceh, Pelopor Pendidikan Daerah Terpencil Kalimantan

  • Bagikan

Oleh : Toni Firmayas, S. Pd., Gr

KABARANDALAN.COMMedio 2017 tepatnya pada tanggal 16 Mei 2017, pemerintah mengumumkan kelulusan Guru Garis Depan (GGD) dengan Nomor Keputusan : 39445/A.A3/KP/2017. Program ini dicetuskan oleh Anies Baswedan yang saat itu memangku jabatan sebagai Menteri Pendidikan RI. Sebagai Guru Garis Depan (GGD) yang merupakan kelanjutan dari Pogram Serjana Mendidik di Daerah Tertinggal, Terluar dan Terdepan (SM-3T) sejak tahun 2011. Program ini dilaksanakan oleh Kementerian Pendidikan dengan proses seleksi sangat ketat yang diikuti khusus oleh Alumni Guru SM-3T di seluruh Indonesia.

Setelah dinyatakan lulus, kami dipanggil ke Jakarta untuk diberi pelatihan dan pembekalan. Kami dibekali metode mengajar berbasis kearifan lokal, pengetahuan wawasan kebangsaan dan latihan ketahanan fisik selama dua minggu di Jakarta. Orientasi tersebut dilaksanakan oleh kementerian pendidikan kerjasama dengan kemeterian terkait.

Keberangkat Guru Garis Depan (GGD) dari Jakarta ke pelosok negeri di lepas secara simbolis oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud), Muhadjir Effendy di Graha Utama Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud), pada Selasa (12/9/2017).

Kemendikbut berpesan kepada CPNS GGD agar tetap amanah dalam menjalankan tugas di daerah penempatan masing-masing. “Saya berharap terhadap guru yang telah ditempatkan di daerah terpencil agar menjadi pelopor, pembaharu dan pencerah di manapun ditugaskan. Jangan pulang sebelum memberikan makna di daerah tersebut,” tambah Mendikbud.

Tidak terasa setalah menenempuh penerbangan lebih 3 Jam akhirnya kami mendarat di Bandara Rahadi Oesman Kabupaten Ketapang setelah sebelumnya transit di Bandara Supadio Pontianak.

Setelah menyiapakan pemerikasaan di Pemkab Ketapang kami bersiap-siap untuk diberangkatkan ke lokasi tugas. Saya dan beberapa teman dari Aceh ditempatkan di Kecamatan Manis Mata, Kabupaten Ketapang kira-kira 50 Km dari Ibukota Kabupaten. Hari itu tanggal 5 Oktober 2017 dimana kami akan diberangkatkan ke lokasi tugas yang dampingi langsung oleh tim dari Pemerintah Kabupaten Ketapang, walaupun di dampingi oleh tim Kabupaten namun suasana batin kami berkecamuk, karena terlalu lama sampai dilokasi.

Baca Juga:  Kadisdik Aceh Tekankan SMK Harus Menciptakan Lulusan Tenaga Kerja Terampil

Berbekal bus mini (mirip L-300 di Aceh) kami 12 sekawan di dalam bus, sepanjang jalan dan sejauh mata memandang, yang terlihat tanah merah yang penuh lubang, ditambah lagi kiri kanan kebun sawit yang sunyi dan sepi.

Selanjutnya kami berdoá dan membatin semoga di depan akan ada cahaya yang lebih terang, ternyata tidak kami temukan, hingga kami sampai di ibu kota Kecamatan Manis Mata.

Proses yang di lalui tidak mudah, perjalan dari Ibu kota Kabupaten Ketapang ke Kecamatan Manis Mata memakan waktu 1 hari perjalanan mengunakan jalur darat dengan medan yang menantang saat itu. Keesokan harinya kami diterima pihak kecamatan, dan dilakukan lepas sambut dengan pihak Kecamatan, UPPK/UPT Dinas Pendidikan Kec. Manis Mata, Guru Garis Depan yang berjumlah 48 Guru di serahkan ke sekolah masing-masing melalui Kepala Sekolah.

Saya, di tugaskan di SD Negeri 25 Manis Mata Desa Bukit Gajah. SD Negeri 25 Manis Mata memiliki jarak tempuh 60 menit dari ibukota Kecamatan malewati medan yang berat. Sekolah ini berada di Lokasi transmigrasi yang di bangun tahun 1996 dengan swadaya masyarakat saat itu dan pada akhirnya menjadi SD Inpres.

Kehadiran kami sebagai guru, sangat dinantikan oleh masyarakat setempat, karena selama ini sekolah tersebut kekurangan guru, sehingga siswa selalu pulang lebih cepat. Sebagai harapan baru, warga di sana meminta agar siswa dapat belajar dengan baik dan penuh waktu. Kekurangan guru merupan persoalan krusial, banyangkan satu sekolah cuma memiliki 1 PNS yang menjabat sebagai Kepala Sekolah dengan jumlah murid 70 orang. Selama ini pebelajaran dibantu oleh Dua Guru Kontrak Daerah tanpa ada tenaga Administrasi.

Baca Juga:  Hanya Perguruan Tinggi Al Washliyah Yang Miliki Prodi 'Antropologi' di Banda Aceh

Hari pertama kami masuk sekolah, kebetulan hari senin, tanpa upacara bendera, sedih rasanya tapi begitulah kenyataannya.

Kami menyaksikan kegembiraan di wajah siswa dan masyarakat. Kehadiran kami menjadi pelipur lara dan berbagi nestapa, kami merasakan jalinan persaudaraan dengan masyarakat sangat terbuka dan mereka bersyukur dengan kehadiran kami sebagai guru GGD di sekolah mereka.

Setelah lebih dari 2 Tahun, kami mengabdi di SDN 25 Manis Mata, tepatnya awal tahun 2020 tiba-tiba saya dipindah tugaskan ke Sekolah SD Negeri 45 Manis Mata. Hari itu hari selasa 18 Februari 2020 seperti biasanya saya bersiap-siap masuk kelas, tanpa saya sadari Bapak Supardi selaku pengawas sekolah datang kesekolah dan memanggil saya untuk masuk ke kantor, apa gerangan apa salah saya kenapa saya di panggil tiba-tiba dengan menyerahkan sepucuk surat yang sebelumnya saya tidak tau apa isi surat tersebut. Setelah saya buka dan baca saya terkejut dan merasa tidak percaya, ini pasti salah bukan saya sebab saya baru 1 tahun lebih jadi PNS yang sebelumnya berstatus CPNS. Masih banyak guru lain yang lebih pantas. Namu apa daya Bapak Supardi bekata “Bapak Toni ini amanah, Bapak di percayakan menjadi Plt. Kepala Sekolah SD Negeri 45 Manis Mata atas kinerja bapak dan prestasi yang telah bapak lakukan selama ini Bapak adalah orang yang di tunjuk langsung oleh Dinas Pendidikan”. Saya hanya bisa terdiam tampa kata.

Baca Juga:  Peduli Lingkungan, Seulanga Aceh Menggelar Penanaman Pohon Mangrove

Sampai saatnya, ketika perpisahan saya memandang satu persatu siswa saya, mereka tertunduk dengan wajah bersedih dan berat dengan kepindahan saya, namun ini perintah tugas, saya harus pamit dengan siswa, teman sejawat dan orangtua siswa untuk menjalankan tugas baru di sekolah lain. Saya tidak menduga, ternyata siswa, teman-teman guru dan orang tua siswa, mereka bersepakat untuk menahan kepindahan saya, tapi apa daya ini adalah Keputusan Dinas Pendidikan Kab. Ketapang. Saya selalu berniat, nanti pada suatu hari akan saya kembali.

Tanpa diduga, keesokan harinya, siswa menagis meminta saya untuk kembali kesekolah, mereka pegang tangan saya diajak masuk ke kelas (kebutulah saya tinggal persis di depan sekolah) mereka tidak mau melepas tangan, lalu saya bujuk nanti akan ada guru penganti yang lebih baik dan lebih pandai, pelan-pelan mereka mulai menerima. Terus terang… hati ini perih… mau ikut siswa masuk kekelas, namun apalah daya saya sebagai Abdi Negara yang harus selalu siap di tempatkan di manapun.

Kami hanya memberi memotivasi untuk terus belajar dan berpesan “suatu hari nanti kalian anak-anak didik bapak harus berhasil untuk mengapai cita. Walaupun kita tinggal di pedalam tapi harus memilki cita-cita mendunia”. Selamat berpisah siswa siswi bapak sekalian, buktikan pada dunia, kalian mampu bersaing dan berhasil nantinya.

*Penulis adalah Alumni STKIP Al Washliyah Banda Aceh dan Mantan Ketua PW.HIMMAH Aceh.

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *