Memperkuat Industri Pariwisata Aceh

  • Bagikan

Penulis : Dr. Ir. Azhar, M.Sc. Dosen Fakultas Pertanian – Universitas Syiah Kuala / Doktor Manajemen Pariwisata / alumni Universiti Utara Malaysia / Email:azhargani@unsyiah.ac.id

KABARANDALAN.COM, BANDA ACEH – STRUKTUR ekonomi suatu daerah sejatinya mengacu kepada karakteristik dasar dan dikaitkan dengan sektor pembentuknya. Konsekuensinya, struktur ekonomi suatu daerah dibangun atas dasar kekuatan sumberdaya yang dimiliki yaitu sektor primer, sektor sekunder, dan sektor tersier. Badan Pusat Statistik (BPS, 2020) melaporkan bahwa sumbangan sektor primer dan sektor sekunder terhadap pertumbuhan ekonomi masih mendominasi struktur perekonomian Aceh.

Secara sederhana dapat dipahami sumbangan sektor primer yang terdiri atas sektor pertanian, perikanan, dan kehutanan masih menjadi tumpuan kegiatan ekonomi dimana pada triwulan III 2020 berkontribusi sebesar 31,37 persen terhadap perekonomian Aceh. Memasuki Tahun 2021, dalam situasi pandemi covid-19 sepertinya struktur perekomian Aceh masih didominasi oleh sektor primer. Namun begitu, sumbangan sektor primer semakin kecil dengan adanya transformasi aktivitas ekonomi masyarakat dari sektor pertanian ke sektor industri dan pengolahan.

* Perkuat Sektor Tersier

Secara umum diketahui sektor pertanian, kehutanan dan perikanan masih mendominasi perekonomian Aceh. Hal ini dapat dilihat dari kondisi geografis dan potensi sumber daya alam yang tersebar di 23 kabupaten dan kota. Dari kabupaten dan kota diketahui Kota Banda Aceh dan Kota Sabang adalah contoh kota yang tidak mengandalkan sektor primer sebagai sektor unggulan. Oleh karena itu, sudah sewajarnya jika kedua kota itu dijadikan sampel dalam tulisan ini.

Mengacu kepada potensi sumber daya alam yang dimiliki Banda Aceh dan Sabang sejogyanya kedua kota tersebut harus fokus membangun ekonomi berbasis sektor tersier dalam hal ini sektor jasa yang memiliki keunggulan komperatif dan tidak dimiliki oleh daerah lain. Penguatan sektor tersier yang disarankan yaitu bidang industri pariwisata dimana Banda Aceh dan Sabang merupakan kota tua dan sudah cukup dikenal serta memiliki berbagai situs seperti artifak budaya dan agama, tsunami dan yang tidak kalah menariknya adalah industri kuliner yang tidak dimiliki daerah lain.

Baca Juga:  Drs. H. Asib Amin Tokoh Nagan Yang Dirindukan ?

Secara teoritis, kedua wilayah memenuhi persyaratan dan layak untuk pengembangan suatu destinasi pariwisata. Pertama, kedua wilayah memiliki infrastruktur yang sangat memadai. Akses moda transportasi dari dan ke Bandara Internasional Sultan Iskandar Muda, merupakan faktor pendukung utama. Demikian juga akses ke Pulau Weh Sabang dengan tersedianya kapal motor dari Ulee Lheu ke Balohan Sabang bukan hambatan bagi wisatawan yang ingin menginjakkan kaki di pulau yang pernah menjadi karantina haji. Kedua kedua wilayah memiliki berbagai destinasi mulai dari wisata alam, agama dan budaya sampai dengan industri kuliner. Ketiga, ketersediaan akomodosi mulai dari hotel sampai dengan homestay milik masyarakat. Keempat adalah kesadaran dan keramahtamahan. Kota Banda Aceh dan Kota Sabang dikenal sebagai kota kosmopolitan dan amat ramah dengan pendatang dan sarat dengan kearifan lokal yang dibingkai dengan syariat Islam. Ini merupakan kekuatan yang dapat diandalkan untuk memperkuat sektor tersier.

* Pertegas Visi Pembangunan

Tujuan akhir pembangunan adalah kesejahteraan masyarakat. Pendapatan Asli Daerah (PAD) merupakan salah satu instrumen untuk menilai pencapaian berbagai kegiatan ekonomi. Semakin tinggi PAD semakin banyak dan bervariasi program pembangunan dapat dimanifestasikan. Lantas, apa yang harus dilakukan pemimpin kedua kota untuk memperkuat sektor tersier? Pertama, kepala pemerintahan harus mempertegas visi dan misi. Visi pembangunan harus tegas dan terukur sehingga terwujudnya misi. Adalah suatu keniscayaan untuk mewujudkan pertumbuhan ekonomi dari sektor tersier yang memerlukan komitmen serius pemimpin dan harus sinergis dengan pemangku kepentingan lain.

Baca Juga:  MAU SUKSES ? SILAHKAN PAHAMI SIFAT DOSENMU

Hal tersebut dapat kita lihat bagaimana kepemimpinan Walikota Banda Aceh periode 2007-2012 mengusung visi dan misi Banda Aceh sebagai bandar wisata Islami Indonesia. Sementara visi dan misi walikota Banda Aceh 2017-2022 yaitu terwujudnya Banda Aceh yang gemilang dalam bingkai syariah. Walikota Banda Aceh periode 2007-2012 sudah meletakkan kerangka dasar yang tepat untuk memperkuat sektor tersier sebagai sektor unggulan Kota Banda. Namun demikian, pada hemat penulis kepemimpinan Walikota Banda Aceh ini tidak secara tegas mendeklarasikan sektor unggulan sebagaimana yang dilakukan oleh pendahulunya. Barangkali penjabaran kata gemilang yang tertuang dalam visi misi mereka mencakup semua sektor ekonomi termasuk sektor tersier.

Untuk Kota Sabang, mereka mengusung visi misi Walikota Sabang 2017–2022 yaitu terwujudnya pembangunan Sabang yang mandiri, sejuk, tentram yang berbasis wisata maritim dan berazaskan syariat dengan semangat kebersamaan (ulama dan umara). Sabang meskipun terkenal sebagai kawasan perdagangan bebas sepertinya lebih konsisten dan mereka sangat menyadari kondisi geografis dan historis serta sumber daya alam sehingga mau tidak mau harus memperkuat sektor wisata maritim sebagai unggulan ekonomi.

* Sumber Utama PAD

Sebagaimana diutarakan di atas, sektor tersier adalah salah satu upaya cerdas untuk meningkatkan PAD. Banda Aceh dan Sabang merupakan dua kota yang memiliki potensi meraup pundi-pundi dari industri pariwisata dan perhotelan, restoran dan rumah makan, pajak dan retribusi dari UMKM serta sektor jasa lainnya.

Baca Juga:  Simpang Itu (Tidak) Mesra Lagi

Sektor tersier dalam konteks sektor jasa terutama industri pariwisata dipercayai mempunyai keterkaitan secara langsung maupun tidak langsung dengan sektor ekonomi lainnya. Sebagai ilustrasi, akibat tingginya angka kunjungan wisatawan tentunya berdampak langsung terhadap permintaan penginapan, restoran dan rumah makan serta kegiatan ekonomi lain yang mendukung kegiatan sektor pariwisata. Benefit tersebut tentu dapat dimanfaatkan oleh daerah yang berbatasan dengan Banda Aceh dan Sabang dapat memasok kebutuhan bahan pangan dan sayur dan buah yang tidak dihasilkan kedua kota tersebut.

Jika demikian skenarionya, maka Banda Aceh dan Sabang harus melakukan strategi masif dan terstruktur antara lain dengan memperkuat kegiatan wisata MICE (Meeting, Incentive, Conference and Exhibition). MICE merupakan perpaduan antara perjalanan wisata dengan rangkaian kegiatan bisnis yang dilakukan oleh sekelompok pebisnis. Dalam wisata ini, kata kuncinya adalah memperbanyak even. Pemerintah Banda Aceh dan Sabang harus menjalin kerjasama dengan berbagai pemangku kepentingan seperti perguruan tinggi, dunia usaha maupun komunitas profesional untuk memperbanyak penyelengaraan berbagai even baik skala nasional maupun international.

Apabila setiap tahun berbagai even dapat diselenggarakan di kedua kota tersebut, maka dengan sendirinya akan tercipta efek pengganda terhadap kegiatan ekonomi lainnya.
Meskipun pilkada serentak 2022 belum dapat dipastikan, tidak berlebihan apabila calon pemimpin di kedua kota ini ke depan harus mempertegas serta memperkuat komitmen menjadikan sektor tersier sebagai sektor unggulan yang bermuara kepada kesejahteraan masyarakat sebagaimana lazim digaung-gaungkan dalam pidato politik terutamanya di masa kampanye. [*]

  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *